welcome




cursor

Angry Birds -  Unavailable

Jumat, 04 November 2011

CAIRAN OTAK (LIQUOR CEREBRO SPINALIS) / LCS

BAB IX
CAIRAN OTAK (LIQUOR CEREBRO SPINALIS)


IX.1 PENDAHULUAN
IX.1.1 Pengertian
Liquour Cerebrospinalis adalah cairan otak yang diambil melalui lumbal punksi. Kelainan  hasil pemeriksaan dapat memberikan petunjuk ke arah suatu penyakit susunan saraf pusat, baik kasus akut maupun kronis yang akan diberikan tindakan lebih lanjut oleh klinisi berupa pemberikan terapi adekuat.
Cairan otak biasanya diperoleh dengan melakukan punksi lumbal pada lumbal III dan IV dai cavum subarachnoidale, namun dapat pula pada suboccipital ke dalam cisterna magma atau punksi ventrikel, yang dapat disesuaikan dengan indikasi klinik. Seorang klinik yang ahli dapat memperkirakan pengambilan tersebut. Hasil punksi lumbal dimasukkan dalam 3 tabung atau 3 syringe yang berbeda, antara lain :
1.    Tabung I berisi 1 mL
Dibuang karena tidak dapat digunakan sebagai bahan pemeriksaan karena mungkin mengandung darah pada saat penyedotan.
2.    Tabung II berisi 7 mL
Digunakan untuk pemeriksaan serologi, bakteriologi dan kimia klinik.
3.    Tabung III berisi 2 mL
Digunakan untuk pemeriksaan jumlah sel, Diff.count dan protein kualitatif/kuantitatif.

IX.1.2 Parameter Pemeriksaan
Parameter yang umum diperiksa pada cairan otak adalah sebagai berikut :
a.    Makroskopik
-       Warna
-       Kekeruhan (Kejernihan)
-       Bekuan
-       BJ
-       pH
b.    Mikroskopik
-       Hitung Jumlah Sel
-       Hitung Jenis Sel (Diff.Count)
c.    Kimiawi
-       Pandy
-       Nonne
-       Protein
-       Glukosa
-       Chlorida
d.    Bakteriologi (Pembiakan)

IX.2 METODE PEMERIKSAAN
IX.2.1 Makroskopik
§  Metode                : Visual (Manual)
§  Tujuan                  : Untuk mengetahui cairan LCS secara makroskopik meliputi : warna, kejernihan, bekuan, pH dan BJ.
§  Alat dan Bahan    :
-       Tabung reaksi
-       Beaker gelas
-       Kertas indikator pH universal
-       Refraktometer abbe
§  Spesimen            : Cairan LCS
§  Cara Kerja           :
-       Cairan LCS dimasukkan dalam tabung bersih dan kering.
-       Diamati warna, kejernihan, adanya bekuan pada cahaya terang.
-       Dicelupkan indikator pH universal pada LCS dan diukur pH dengan membandingkan deret standar pH.
-       Cairan LCS diteteskan 1-2 tetes pada refraktometer dan diperiksa pada eye piece BJ.
§  Hasil dan Interpretasi
No
Parameter
Penilaian
Interpretasi Normal
1.
Warna
Tidak berwarna, Kuning muda, Kuning, Kuning tua, Kuning coklat, merah, hitam coklat
Tidak berwarna
2.
Kejernihan
Jernih, agak keruh, keruh, sangat keruh, keruh kemerahan
Jernih
3.
Bekuan
Tidak ada bekuan, ada bekuan
Tidak ada bekuan
4.
pH
7,3 atau setara dengan pH plasma/serum

5.
BJ
1.000 – 1.010
1.003 – 1.008
§  Hal yang perlu diperhatikan :
-       LCS yang bercampur darah dalam jumlah banyak pada kedua tabung, tidak dapat diperiksa karena karena akan sama hasilnya dengan pemeriksaan dalam darah, terutama bila ada bekuan merah sebagaimana darah membeku.
-       Adanya bekuan terlihat berupa kabut putih yang menggumpal karena bekuan terdiri atas benang fibrin.

IX.2.2 Hitung Jumlah Sel
§  Metode                :            Bilik Hitung
§  Prinsip                  : LCS diencerkan dengan larutan Turk pekat akan ada sel leukosit dan sel lainnya akan lisis dan dihitung selnya dalam kamar hitung di bawah mikroskop.
§  Tujuan                  : Untuk mengetahui jumlah sel dalam cairan LCS.
§  Alat dan Reagensia :       
-       Mikroskop
-       Hemaocytometer : Bilik hitung Improved neubauer, kaca penutup, pipet thoma leukosit
-       Tissue
-       Larutan Turk Pekat : Kristal violet 0,1 gram, asam asetat glacial 10 mL dan aquadest 90 mL.
§  Spesimen            : LCS
§  Cara Kerja           :
-       Larutan Turk pekat diisap sampai tanda 1 tepat
-       Larutan LCS diisap sampai tanda 11 tepat.
-       Dikocok perlahan dan dibuang cairan beberapa tetes.
-       Diteteskan pada bilik hitung dan dihitung sel dalam kamar hitung pada semua kotak leukosit di mikroskop lensa objektif 10x/40x.
§  Perhitungan         :
PDP   : 1/10  = 0,1x
TKP   : 1/0,1 = 10x
KBH   : 4 kotak leukosit
Ʃ Sel   : Jumlah sel ditemukan (berwarna keunguan dengan inti dan sitoplasma)

Sel    = PDP x  TKP  x Jumlah sel ditemukan
                        KBH
         = 0,1   x  10   x Ʃ
                          4
         = 2,5   x  Ʃ
         = ……..sel/mm3 LCS
§  Interpretasi           : Jumlah sel normal = 0 – 5 sel/mm3 LCS

IX.2.3 Hitung Jenis Sel
§  Metode                : Giemsa Stain
§  Tujuan                  : Untuk membedakan jenis sel mononuklear dan polinuklear dalam cairan LCS
§  Alat dan Reagensia :
-       Objek Gelas
-       Kaca Penghapus
-       Sentrifuge
-       Tabung reaksi
-       Metanol absolut
-       Giemsa
-       Timer
§  Spesimen            : LCS
§  Cara Kerja           :
-       Cairan LCS di masukkan dalam tabung secukupnya.
-       Disentrifugasi selama 5 menit 2000 rpm
-       Supernatant dibuang dan endapan diambil.
-       Diteteskan pada objek gelas dan dibuat preparat hapusan tebal
-       Di keringkan dan difiksasi selama 2 menit dengan metanol absolut.
-       Diwarnai dengan Giemsa selama 15-20 menit.
-       Dicuci dan diperiksa dimikroskop lensa objektif 100x denga imersi.
§  Perhitungan         :
Jenis sel
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Jumlah
%
MN












PMN












Jumlah













§  Interpretasi : Normal MN 100% dan PMN 0%

IX.2.4 Uji Pandy
§  Metode                : Pandy
§  Prinsip                  : Protein dalam larutan jenuh phenol akan mengalami denaturasi berupa kekeruhan hingga terjadi endapan putih.
§  Tujuan                  : Untuk mengetahui adanya protein dalam LCS
§  Alat dan Reagensia :
-       Tabung reaksi
-       Pipet tetes
-       Larutan Pandy : phenol 10 mL dan aquadest 90 mL. (larutan bila keruh disaring atau dibiarkan mengendap sisa jenuhnya)
§  Spesimen            :            LCS
§  Cara Kerja           :
-       Dimasukkan 1 mL cairan otak ke dalam tabung reaksi.
-       Ditambah beberapa tetes larutan Pandy.
-       Amati adanya kekeruhan pada larutan tersebut.
§  Interpretasi           :
-       Negatif  : tidak terbentuk kekeruhan putih
-       Positif   : terbentuk kekeruhan putih.



IX.2.5 Uji Nonne
§  Metode                : Nonne
§  Prinsip                  : Protein dalam larutan jenuh garam ammonium sulfat akan mengalami denaturasi berupa kekeruhan hingga terbentuka endapan.
§  Tujuan                  : Untuk mengetahui adanya protein jenis globulin dalam LCS
§  Alat dan Reagensia :
-       Tabung reaksi
-       Pipet tetes
-       Larutan Nonne : Ammonium sulfat jenuh 80 gram dalam 100 mL aquadest. (disaring bila keruh)
§  Spesimen            : LCS
§  Cara Kerja           :
-       Dimasukkan 1 mL cairan otak ke dalam tabung reaksi.
-       Ditambah beberapa tetes larutan Nonne melalui dinding tabung dengan kemiringan 45°.
-       Amati adanya cincin putih keruh pada kedua lapis larutan tersebut pada posisi tegak.
§  Interpretasi           :
-       Negatif  : tidak terbentuk cincin putih
-       Positif   : terbentuk cincin putih.

IX.2.6 Protein
§  Metode                : Biuret
§  Prinsip                  : Protein dalam sampel bereaksi dengan ion cupri (II) dalam medium alkali membentuk komplek warna yang dapat diukur dengan spektrofotometer
§  Tujuan                  : Untuk menetapkan kadar protein dalam LCS.
§  Alat                      :
-       Tabung reaksi
-       Mikropipet  20 µLdan 1000 µL.
-       Tip kuning dan biru.
-       Fotometer
§  Reagensia           :
-       Reagen Kerja:  Cupri (II) asetat 6 mmol/L, Kalium Iodida 12 mmol/L, NaOH 1,15 mol/L, deterjen.
-       Reagen standard : 8,0 g/dL
-       Stabilitas : Reagensia stabil setelah dibuka sampai kadaluarsa bila disimpan pada suhu ruang.
§  Spesimen            : LCS
§  Cara Kerja :
-       Masukkan ke dalam tabung berlabel :

Blanko
Standar
Sampel
Standar
Serum
Reagen kerja
-
-
1000 μl
20 µl
-
1000 μl
-
20 μl
1000 μl
-       Campur dan inkubasi selama 10 menit pada suhu ruang.
-       Diukur absorben standar dan sampel pada Photometer dengan panjang gelombang 578 nm terhadap blanko reagent.
§  Perhitungan :
Total Protein   = Absorben  sampel     x konsentrasi standar (8,0 g/dL)      
         Absorben standard
      = ..............g/dL  x 1000    = ......mg/dL
Nilai Normal   : 15 – 45 mg/dL
IX.2.7 Glukosa
§  Metode                :            GOD-PAP
§  Prinsip                  : Glukosa dioksidasi oleh glukosa oksidase menghasilkan hidrogen peroksida yang bereaksi dengn 4-aminoantipirin dan fenol dengan pengaruh katalis peroksidase menghasilkan quinoneimine yang berwarna merah.
§  Tujuan                  : Untuk menentukan kadar glukosa dalam LCS
§  Reaksi                 : Glukosa + ½  O+ 2 H2glukosa oxidase      Glukonate + H2O2.
            2 H2O2 + 4-Aminoantipyrine + Phenol  POD   Quinoneimine + 4 H2O
§  Alat                      :
-     Tabung reaksi kecil                              - Timer
-     Mikropipet 10 dan 1000 µl                    - Tissue
-     Tip kuning dan biru                               - Rak Tabung
-     Fotometer
§  Reagensia :
-       Reagen kerja Glukosa
-       Reagen standar  Glukosa 100 mg/dl
-       Stabilitas : Reagensia stabil setelah dibuka sampai kadaluarsa bila disimpan pada suhu 2-8oC.
§  Spesimen            :            LCS
§  Cara kerja:
-       Dipipet ke dalam tabung:

Blanko
Standar
Sampel
Standar
Serum
Reagen kerja
-
-
1000 µl
10 µl
-
1000 µl
-
10 µl
1000 µl
-       Dicampur dan diinkubasi pada suhu ruang selama 10 menit.
-       Diukur absorben standar dan sampel pada Photometer terhadap blanko dengan panjang gelombang 546 nm.
§  Pengamatan dan Pembacaan :
-       Absorben blanko aquabidest  : 0,000
-       Dicatat Absorben pengukuran reagent blanko, standar dan sampel
-       Absorben :
§  Perhitungan :
Glukosa          = Absorben  sampel     x konsentrasi standard (100 mg/dL)
         Absorben standard
      = ..............mg/dL
§  Nilai Normal : 45 – 70 mg/dL

IX.2.8 Chlorida
§  Metode                : TPTZ
§  Prinsip                  : Ion Chlorida bereaksi dengan Mercury (II), 2,4,4-tri-(2-pyridil)-S-triazide kompleks (TPTZ) membentuk merkuri (II) chlorida. TPTZ bebas bereaksi dengan ion besi (II) menghasilkan warna biru kompleks. Perubahan absorben pada 578 nm sebanding dengan kadar chlorida.
§  Tujuan                  : Untuk menentukan kadar Chlorida dalam LCS
§  Alat                      :
-     Tabung reaksi kecil                              - Timer
-     Mikropipet 10 dan 1000 µl                    - Tissue
-     Tip kuning dan biru                               - Rak Tabung
-     Fotometer
§  Reagensia           :
-       Reagen warna : 2,4,6-tri-(2-pyridil)-S-triazide (TPTZ) dan merkuri (II) kompleks 0,96 mmol/L dan besi (II) sulfat 0,5 mmol/L
-       Standard Chlorida : Natrium chlorida 100 mmol/L atau 355 mg/dL
§  Spesimen            : LCS
§  Cara Kerja           :
-       Dipipet ke dalam tabung:

Blanko
Standar
Sampel
Standar
Serum
Reagen kerja
-
-
1000 µl
10 µl
-
1000 µl
-
10 µl
1000 µl
-       Dicampur dan diinkubasi pada suhu ruang selama 10 menit.
-       Diukur absorben standar dan sampel pada Photometer terhadap blanko dengan panjang gelombang 546 nm.
§  Perhitungan :
       Chlorida  = Absorben  sampel     x konsentrasi standard (100 mmol/L)           
         Absorben standard
      = ..............mmol/L
§  Nilai Normal : 98 - 106 mmol/L






















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar